MAKALAH TAFSIR AHKAM

Published November 6, 2011 by fidhaquadri

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Al Qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW melalui perantara malaikat jibril untuk menjadi petunjuk bagi umat-umat mukmin di seluruh pelosok bumi ini. Sebelum datangnya Rasulullah SAW manusia sekiranya berada dalam keterpurukan akhlak dan aqidah. Mereka benyak menyembah berhala dan menjadi manusia yang serakah akan kehidupan dunia, dimana terdapat berbagai kaum yang berusaha menghancurkan islam. Terutama penindasan atas kaum muslimin yang tidak mempunyai apa-apa selain kekuatan iman yang ada pada diri mereka.
Dengan kejadian itu semua maka Allah SWT mengangkat seorang nabi yang selanjutnya Nabi Muhammad akhirnya diangkat menjadi seorang Rasul yang akan mengangkat akhlak dan moral para kaum muslim. Menjadi pemimpin umat muslim untuk melawan kaum quraisy dari penindasan terhadap mereka. Banyak cobaan yang yang dihadapadi rasulullah dalam membela hak-hak kaum muslim
Dalam hal ini tidak terkecuali keterpurukan dalam mengfungsikan harta mereka. Pada masa sebelum Rasulullah terdapat ketidakadilan dalam zakat dan shadaqah. Konsep itupun muncul setelah Allah SWT mengutus rasulullah untuk membimbing mereka dalam mengfungsikan harta mereka dijalan yang Allah SWT ridhoi.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimanakah penafsiran hukum dari surah AL Baqarah 177 dan 267 dalam hal asbabul nuzul, tafsir mufradat, pendapat para mufassir, hubungan ayat dengan ayat sebelumnya, dll ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. AL BAQARAH 177

ARTINYA :
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
1. Mufradat
a. Memperbanyak kebaikan

b. Mengarah timur dan barat

c. Memberikan harta benda

d. Tetap berdiam diri namun kebutuhan menjeratnya, disini dia mengalami kecacatan

e. Orang yang sedang dalam perjalanan jauh, namun kehabisan bekaldan saat itu tidak ada sanak keluargapun yang dapat dimintai pertolongan

f. Fakir atau sangat miskin atau berada dalam kesempitan

g. Membebaskan budak (hamba sahaya)

h. Mendirikan shalat sebaik mungkin

i. Janji

j. Orang yang meminta-minta pada oranglain

k. Setiap sesuatu yang membahayakan manusia, misalnya sedang menderita penyakit, kehilangan orang yang dicintainya, dll

l. Benar-benar mengaku beriman

m. Menjauhi perbuatan dosa dan larangan-larangannya

2. Asbabul nuzul
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Qatadah menerangkan tentang kaum Yahudi yang menganggap bahwa yang baik itu shalat menghadap ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur, sehingga turunlah ayat tersebut di atas
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW tentang “al-Bir” (kebaikan). Setelah turun ayat tersebut di atas Rasulullah SAW memanggil kembali orang itu, dan dibacakannya ayat tersebut kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan shalat fardhu. Pada waktu itu apabila seseorang telah mengucapkan “Asyhadu alla ilaha illalah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘Abduhu wa rasuluh”, kemudian meninggal di saat ia tetap iman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur.

B. AL BAQARAH 267

ARTINYA :
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
1. Tafsir Mufradat
a. أنفقوا : kata infaq berasal dari akar kata nafaqa – yanfaqu – nafaqan – nifaqan yang artinya “berlalu, habis, laris, ramai”. Kalimat nafaqa asy-syai’u artinya sesuatu itu habis, baik habis karena dijual, mati atau karena dibelanjakan.
b. طيبات : terambil dari kata thayyib yang artinya baik dan disenangi (disukai); lawannya khabis yang berarti buruk dan dibenci (tak disukai).
c. ولا تيمموا : artinya: janganlah kamu bermaksud, menuju, menghendaki.
d. تغمضوا : artinya: meremehkan, memicingkan mata.
e. حميد : Maha Terpuji; maksudnya berhak mendapat pujian atas segala nikmat-Nya yang besar.
2. Sebab turunnya ayat
Diriwayatkan dari Jabir bahwa Nabi SAW memerintahkan umat Islam agar mengeluarkan zakat fitrah sebanyak 1 (satu) sha’ kurma, lalu datanglah seseorang membawa kurma berkualitas rendah. Maka turunlah ayat tersebut (QS. 2: 267). Menurut al-Barra’, ayat ini turun berkenaan dengan kaum Anshar. Ketika memetik (panen) kurma mereka mengeluarkan beberapa tandan kurma, baik yang sudah matang maupun yang belum matang, lalu digantung pada tambang di antara dua tiang masjid Nabi yang diperuntukkan orang miskin dari kaum Muhajirin. Syahdan, seorang laki-laki dengan sengaja mengeluarkan satu tandan kurma yang kualitasnya sangat buruk. Ia mengira bahwa hal itu dibolehkan mengingat sudah cukup banyak tandanan kurma yang tergantung. Maka berkenaan dengan orang tersebut turunlah ayat yang artinya: “… dan janganlah kamu memilih-milih yang buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya…”. Yakni, tandanan kurma bermutu sangat buruk yang seandainya diberikan kepadamu, kamu tidak mau menerimanya.
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa ayat di atas turun berkenaan dengan peristiwa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan lainnya, yaitu bahwa seseorang datang membawa setandan kurma yang sangat buruk lalu digantungkan di mesjid untuk dimakan fakir miskin. Maka turunlah ayat yang artinya: “…
dan janganlah kamu memilih milih yang buruk lalu kamu nafkankan daripadanya,,

3. Munasabah dengan ayat sebelumnya
Pada ayat sebelumnya, Allah dengan bahasa yang indah namun tegas, mengemukakan sifat dan niat yang harus disandang oleh seseorang ketika berinfaq, seperti ikhlas karena Allah, niat membersihkan jiwa dan menjauhi sifat riya’, serta sikap yang harus diperhatikan setelah berinfaq, yaitu tidak menyebut-nyebut infaqnya dan tidak pula menyakiti penerimanya. Itu semua merupakan pedoman yang berkenaan dengan orang yang berinfaq dan cara bagaimana seharusnya ia berinfaq. Pada ayat ini Allah menjelaskan pedoman yang harus diperhatikan berkaitan dengan kualitas harta yang akan diinfakkan, yaitu bahwa harta tersebut hendaknya merupakan harta terbaik dan paling dicintai, sehingga dengan demikian pedoman tentang infaq dan penggunaan kekayaan pada jalan Allah menjadi lengkap dan sempurna.
4. Isi pokok kandungan ayat
Kalau ayat-ayat sebelum ini berbicara tentang motivasi memberi nafkah, baik tulus maupun tidak tulus, maka ayat ini menguraikan nafkah yang diberikan serta sifat nafkah tersebut. Yang pertama digarisbawahinya adalah bahwa yang dinafkahkan hendaknya yang baik-baik. Selanjutnya dijelaskan bahwa yang dinafkahkan itu adalah dari hasil usaha sendiri dan apa yang dikeluarkan Allah dari bumi.
5. Pendapat mufassir
Ibnu Qayyim berpendapat ada beberapa kemungkinan alasan mengapa Allah hanya menyebutkan secara khusus dua jenis kekayaan dalam ayat di atas, yaitu kekayaan yang keluar dari bumi dan harta niaga. Kemungkinan yang pertama karena melihat kenyataan bahwa keduanya merupakan jenis kekayaan yang umum dimiliki masyarakat pada saat itu. Kemungkinan kedua adalah karena keduanya merupakan harta kekayaan yang utama (pokok). Sedangkan jenis kekayaan yang lain sudah termasuk di dalam atau timbul dari keduanya. Hal ini karena istilah “usaha” mencakup segala bentuk perniagaan dengan berbagai ragam dan jenis harta seperti pakaian, makanan, budak, hewan, peralatan, dan segala benda lainnya yang berkaitan dengan perdagangan. Sedangkan “harta yang keluar dari bumi” meliputi biji-bijian, buah-buahan, harta terpendam (rikaz) dan pertambangan. Jelaslah bahwa keduanya merupakan harta yang pokok dan dominan. Allah melarang mengeluarkan (menginfakkan) dengan sengaja harta yang buruk, berkualitas rendah, sebagaimana dorongan jiwa pada umumnya yaitu menyimpan harta yang baik dan mengeluarkan harta berkualitas rendah.
Dari dua ayat tersebut diatas maka dapat disimpulkan pelajaran ayat yang yang dapat ditarik kesimpulan dan pelajaran yang bisa dipetik dari kedua ayat tersebut adalah :
1. Fungsikanlah harta yang Allah titipkan kepada kita pada sesuatu kebajikan yang baik (zakat dan sedeqah)
2. Sedeqah dan zakatkanlah harta itu pada orang-orang yang memerlukan yang Allah telah menerangkan pada ayat di atas tentang siapa-siapa saja yang berhak menerima zakat dan sedeqah tersebut
3. Janganlah memberikan zakat dan shedeqah kita pada orang-orang yang dimana harta tersebut tidak layak untuk kita, artinya jangan menzakatkan harta itu dimana kamu saja tidak menginginkan barang tersebut, apalagi memicingkan mata pada barang tersebut.
4. Sebaiknya kita menyedekahkan harta tersebut demi mandapat ridho Allah SWT.
Adapun hadits yang berkaitan tentang fungsi harta yaitu :
– Allah Tabaraka wata’ala berfirman (di dalam hadits Qudsi): “Hai anak Adam, infaklah (nafkahkanlah hartamu), niscaya Aku memberikan nafkah kepadamu.” (HR. Muslim)
– Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersodaqoh dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana. (HR. Ath-Thabrani)
– Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sodaqohnya. (HR. Ahmad)
– Barangsiapa ingin doanya terkabul dan dibebaskan dari kesulitannya hendaklah dia mengatasi (menyelesaikan) kesulitan orang lain. (HR. Ahmad)

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjelasan ayat Al Baqarah ayat 177 dapat ditarik kesimpulan yaitu dimana fungsi harta di sini diberikan kepada orang-orang yang memerlukan yang Allah telah menjelaskan kepada siapa saja harta itu dapat dinafkahkan ataupun dizakatkan berdasarkan Al Baqarah ayat 177
Sedangkan berdasarkan ayat Al Baqarah ayat 267 dapat ditarik kesimpulan yaitu dimana harta yang dinafkahkan di sini haruslah dari hasil yang baik-baik dengan apa yang Allah telah keluarkan dari bumi, dan janganlah memberikan harta yang kamu nafkahkan itu dari ha-hal yang buruk, dalam hal ini harta dimana sesuatu itu kamu saja tidak mau terhadapnya sedang kamu memberikannya terhadap orang lain.
B. Kritik dan saran
Mungkin saja dalam pembuatan makalah kami masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami meminta kritik dan saran sebagai barang masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah kami dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’anul Karim
Kitab kuning, Al Qurtubi
Muh. Quraish Shihab, tafsir Al Misbah (volume I), lentera hati; jakarta 2002
H. Salim Bahresy, tafsir ibnu katsir (jilid I), victory agency; kuala lumpur, 1988
Google internet, fungsi harta berdasar surah al baqarah ayat 177 dan 267

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: